Minggu, 10 Juni 2018

Laki-laki dan Nyinyir


Di tahun 2018 ini makin banyak bermunculan kosa kata baru, salah satunya adalah kata NYINYIR gue ga tau apakahdi tahun-tahun sebelumnya kata ini udah mulai booming apa belum.
Semakin hari gue rasa makin banyak orang yang mengomentari hidup orang lain berdasarkan apa yang mereka lihat bukan berdasarkan fakta sesungguhnya terlebih lagi sekarang social media udah mulai menjamur ke semua kalangan. Untuk nyinyiran itu sendiri sekarang juga banyak orang yang ngelakuin dan banyak juga orang yang jadi korban nyinyiran ga peduli dia orang biasa, artis, presiden, menteri, bahkan ulama sekalipun.
Yang bikin gue heran adalah kenapa mereka para pelaku ini komentarin sesuatu yang bahkan mereka ga pernah tau kebenarannya . Bahkan saat ada orang yang lagi sibuk membela keadilan dan ngelakuin hal-hal berbau kemanusiaan dan hal positif lainnya pun masih mereka komentarin.Dan parahnya lagi adalah sekarang ini bukan cuma kaum perempuan aja yang jadi pelaku nyinyir ini (karena perempuan biasanya identic dengan hal berbau gossip dan lainnya) tapi banyak juga kaum laki-laki yang udah mulai kelewatan dalam hal nyinyir-menyinyir ini.
Untuk kaum laki-laki ini biasanya kalau ada perempuan posting foto tentang aktivitas mereka hal yang pertama kali mereka lihat itu bisanya wajah. Biasanya mereka bakal komen kalau wajah si perempuan jerawatan, “Cantik sih, tapi sayang jerawatan.” Dan apa salah dari jerawat yang ada di wajah perempuan, hey kaum laki-laki? Apakah ada atau nggaknya jerawat di wajah seseorang itu menentukan cantik atau tidaknya seseorang? Jawabannya tentu aja tidak. Jerawat, wajah putih, mulus, dan sebagainya itu bukan standar kecantikan dari seorang perempuan. Cantiknya perempuan itu ada pada hati, attitude, dan ketaatan mereka dalam beragama bukan karena ada atau nggaknya jerawat, mulus atau nggak wajahnya. Sekarang saatnya berpikiran realistis di zaman yang semakin maju.
Gue berani bilang gitu karena gue salah satu korban nyinyiran dari laki-laki dan bahkan pacar gue pun juga sempet complain masalah penampilan gue dan lain-lain. Dan ketika kalian complain masalah itu secara ngga langsung itu jadi salah satu penyebab mental illness buat kaum perempuan. “Ah lebay, digituin aja down.” Bukannya down tapi lebih tepatnya buat perempuan yang hatinya lembut banget itu bisa bikin mereka depresi dan inget ya perempuan itu penuh dengan beribu-ribu perasaan.
Saran gue adalah stop komentarin hidup atau penampilan seseorang, sekarang ini ada baiknya kalau kita sibuk koreksi diri masing-masing perjuangin apa yang jadi cita-cita kita. Biarin aja hidup mereka itu jadi hidup mereka bukan untuk kita komentarin karena kita ga pernah tau hal sulit apa yang udah mereka lewatin buat jadi yang seperti sekarang.

Share: